Hal tersebut terlihat dalam kunjungan Ketua Dekranasda Kota Gunungsitoli, Ny. Veny Sowa’a Laoli, bersama Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Ketenagakerjaan Kota Gunungsitoli, Dafril Hulu, ke Desa Tradisional Tumòri, Kecamatan Gunungsitoli Barat.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Dekranasda melihat secara langsung proses pembuatan anyaman sinasa yang selama ini menjadi salah satu warisan kerajinan khas daerah. Dari proses produksi hingga kondisi para perajin, kunjungan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi potensi serta tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kerajinan lokal.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah tingginya minat pasar terhadap produk anyaman sinasa yang belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan tenaga perajin. Keterbatasan jumlah perajin membuat kapasitas produksi masih terbatas, sementara peluang pasar terus terbuka.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, regenerasi perajin diperlukan agar keterampilan menganyam yang diwariskan secara turun-temurun tidak terputus. Di sisi lain, meningkatnya permintaan pasar menunjukkan bahwa sinasa memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi produk kerajinan yang bernilai ekonomi.
Ketua Dekranasda Kota Gunungsitoli menegaskan bahwa regenerasi perajin merupakan langkah penting untuk memastikan keberlanjutan kerajinan sinasa. Menurutnya, keterampilan tradisional perlu diperkenalkan secara lebih luas kepada generasi muda agar warisan budaya tersebut dapat terus hidup sekaligus berkembang mengikuti kebutuhan zaman dan pasar.
“Minat terhadap anyaman sinasa cukup besar. Ini merupakan peluang yang harus kita manfaatkan. Kita perlu mendorong agar semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, tertarik untuk belajar dan menjadi perajin, sehingga kerajinan ini tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu berkembang dan memenuhi permintaan pasar,” ujar Ny. Veny Sowa’a Laoli.
Pengembangan kerajinan sinasa juga sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Gunungsitoli dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal. Penguatan sektor kriya diharapkan dapat membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk daerah.
Melalui Dekranasda, ruang pembinaan, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas perajin diharapkan dapat terus diperluas. Tidak hanya bagi perajin yang telah berproduksi, tetapi juga bagi masyarakat dan generasi muda yang ingin mempelajari keterampilan menganyam dan menjadikannya sebagai peluang usaha.
Lebih dari sekadar menjaga sebuah tradisi, pengembangan sinasa menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang tumbuh dari masyarakat. Dengan dukungan yang berkelanjutan, kerajinan lokal dapat memiliki daya saing yang lebih baik, baik dari sisi kualitas produk, inovasi, desain, maupun akses pasar.
Pemerintah Kota Gunungsitoli memandang bahwa kekayaan budaya dan potensi ekonomi lokal dapat berjalan beriringan. Ketika tradisi tetap terjaga, keterampilan masyarakat semakin kuat, dan akses terhadap pasar semakin terbuka, kerajinan seperti sinasa dapat berkembang menjadi sumber pendapatan sekaligus identitas budaya daerah.
Dengan demikian, sinasa tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi didorong untuk tumbuh sebagai produk unggulan yang mampu membuka peluang ekonomi bagi generasi berikutnya. Upaya tersebut menjadi bagian dari semangat mewujudkan Gunungsitoli Hebat melalui penguatan ekonomi masyarakat yang berbasis budaya, kreativitas, dan potensi lokal. (Iman Lase)


Komentar0